hola.. lagi puyeng nih, setelah mengalami ini dan itu selamam beberapa waktu belakangan.
usia kehamilan skrg udah berapa ya? pas hari ini 36 minggu sob. dan berapa usia Umar skrg? 1 tahun 10 bulan 7 hari. cakep kan? semakin rempong lah. 2 minggu gak ada asisten. Umar udah pindah tangan ke mana-mana selama saya kerja di rentang waktu itu. 3 kali hari Senin saya bolos. haha.. random banget kan nulisnya. pokoknya mau nulis aja deh. bodo amat.
sebenarnya kalo asisten ada di tempat terus selama selang waktu 2 minggu ini, saya bisa aja ikut diklat yang memang mau saya ikutin. maklum lagi kena sindrom pengen bener jadi widyaiswara. jadi pengen nambah wawasan sebisa mungkin. plus karena kerja di bagian kepegawaian, semakin memudahkan sebenarnya untuk ikut diklat-diklat gitu. termasuk beasiswa juga. kalo emang beneran niat.
tapi apa daya, Allah belum mengizinkan saya buat ikut diklat. yang ada, saya malah sempet ngedrop. tapi kembali ada hikmah di setiap kejadian. saya yang baru ngeh klo semakin deket masa lahiran, harus paham kalo sy menderita anemi. dan sebagai orang yang punya riwayat tranfusi darah sampai 2 kantong pasca lahiran karena mengalami pendarahan yang tidak disadari, sy kudu jaga kondisi saat ini. Hb minimal 10,5 kalo gak mau pendarahan lagi. sedangkan Hb saya skrg cuma 9,9. itu juga udah treatmen minum penambah darah dan jus bit selama 1 minggu. tapi lumayan sih. efeknya agaknya saya lebih fit, bisa bangun lebih pagi dan tidur lebih larut dari jam tidur saya biasanya.. seandainya gak minum mungkin saya udah bedrest saat ini. krn pada saat yang bersamaan, anak dan suami juga sempet turun kondisinya. jadi bertigaan gak fit gitu. heee.. kebayang rempongnya.
ngmg-ngmg masalah jam tidur, saya yang selama 2 minggu ini ngerasa dirempongin sama masalah asisten, dan merasa keserap semua energi positif sama jadi sempit pikirannya, ngerasa rugi juga sempet ngerasa gitu. nyambung gak tuh sama masalah jam tidur? iyalah.. saya yang biasanya kebo, jadi lebih manfaat waktunya selama 2 minggu ini. soalnya waktu yang ada bener2 dimaksimalin, buat ngerjain ini dan itu, termasuk waktu di kantor. waktu tidur jadi sedikit juga, tp ngerasa berguna. emang harusnya makin tua waktu tidurnya makin dikit ya. soalnya kudu makin banyak yang dipikirin, gak mikirin hal-hal remeh seperti mikirin capek cuma karena gak ada asisten doang. harusnya bisa mikirin masa depan, mikirin dedek bayi, mikirin Mas Umar, mikirin mau dibawa ke mana kehidupan saya dan keluarga dalam waktu dekat dan seterusnya. mikirin gimana harusnya mencapai cita-cita yang ada, mikirin gimana caranya membenahi diri, mendidik anak dll yang lebih penting daripada sekedar marah-marah gak karuan dan mempersalahkan orang lain melulu, atau sekedar mencari kambing hitam biar rasa kesal tersalurkan.
alhamdulillah, masih dapat hikmah dari kejadian yang ada. alhamdulillah, masih dikasih kesehatan sama Allah. alhamdulillah masih ada eling nya meski sempet kaya orang tolol. alhamdulillah masih punya kesempatan buat bersyukur.
udah ah, mau lanjut window shoping, mumpung Umar bobo. yuk dadah buaibuai..
Senin, 11 Februari 2013
Senin, 14 Januari 2013
RENCANA TAHUN 2013 DI DALAM PEKERJAAN
Selagi masih agak santai, saya ingin menuliskan beberapa
capaian yang mau saya capai pada tahun 2013 ini. Tahun lalu, saya tidak
mendeskripsikan secara detail apa yang ingin saya capai tahun 2012. Saat ini
denga melihat adanya peluang untuk maju dalam hal karier (jiahhh), karena saya
melihat peluang untuk menjadi pejabat fungsional. Dalam hal ini menjadi
widyaiswara, pengajarnya PNS. Cakep kan? Sebenarnya tidak istimewa, karena
sejak awal saya mendaftar untuk jabatan fungsional widyaiswara di BPSDMP
Kementerian Perhubungan, bukan sebagai analis kepegawaian di Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut. Tapi Alhamdulillah juga saya ditempatkan disini.
Karena info-info seputar diklat, beasiswa dan hal-hal terkait isu-isu
kepegawaian terbaru dapat diperoleh dengan mudah dan cepat. Hehe
Gak usah berpanjang lebar deh, ini adalah rencana saya untuk
menjadi widyaiswara yang unggul dalam tahun-tahun ke depan. Jika Allah Swt
mengizinkan dan suami mengizinkan, maka saya mau berkarier sebagai widyaiswara
dengan capaian tertinggi menjadi widyaiswara utama dengan pangkat dan golongan
ruang Pembina Utama (IV/e) dalam kurun waktu 20 tahun. Selepas itu, saya
berniat untuk mengundurkan diri sebagai PNS.
Inilah bagan singkat yang ingin saya capai :
No
|
Golongan Ruang
|
Angka Kredit yang harus dicapai
|
Selisih angka kredit yang harus dicapai
|
Target
(dalam tahun)
|
1.
|
III/a
|
100
|
50
|
1
|
2.
|
III/b
|
150
|
50
|
1
|
3.
|
III/c
|
200
|
100
|
2
|
4.
|
III/d
|
300
|
100
|
2
|
5.
|
IV/a
|
400
|
150
|
2
|
6.
|
IV/b
|
550
|
150
|
2
|
7.
|
IV/c
|
700
|
150
|
2
|
8.
|
IV/d
|
850
|
200
|
3
|
9.
|
IV/e
|
1050
|
Demikian gambaran saya, sehingga dalam 15 tahun saya bisa
mencapai target golongan ruang menjadi IV/e. Semoga Allah Swt memberikan jalan.
Selain itu, saya memiliki target diklat yang ingin saya
ikuti selama tahun 2013, yaitu :
1. Diklat Analis Kepegawaian
2. Diklat Perencanaan Transportasi
3. Diklat Keselamatan Transportasi
4. Diklat Teknik Transportasi Perhubungan Laut (TTPL)
5. Diklat Teknik Analisis Kebutuhan Diklat (AKD)
6. Diklat Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PBJ)
Semoga saja bisa terwujud. Semoga suami mau memberikan izin.
Biar angka kreditnya juga semakin banyak ya.. hehe..etapi, katanya kalo ikut diklat TTPL itu bayar loh, mihil juga dan diklatnya padat, hehe, tp semoga masih bisa dapet kesempatan deh.. wish me luck ya
HIKMAH DIBALIK REMUNERASI
Entah
kenapa setiap kali saya selesai mengikuti suatu diklat, akan ada perubahan yang
cukup drastis dalam rutinistas pekerjaan saya di kantor. Pertama kali ikut
diklat prajabatan, saya dipindah ke urusan lain, meski masih dalam satu unit
yang sama. Bahkan itu terjadi ketika saya masih dalam posisi menjalani
pendidikan dan pelatihan. Kedua kalinya
adalah ketika saya selesai mengikuti diklat calon widyaiswara. Sesampainya di
kantor, saya mendengar kabar, bahwa instansi tempat saya bekerja akan mengalami
remunerasi pada awal tahun 2013. Yang konsekuensinya adalah harus datang lebih
awal dan pulang lebih sore.
Lalu
apa masalahnya? Sewaktu saya masih belum memiliki anak, hal itu tidak menjadi
masalah. Toh saya terbiasa disiplin. Datang sesuai peraturan dan pulang sesuai
peraturan, meskipun yang lainnya tidak ada yang berperilaku demikian. Meskipun
tidak ada kompensasi atas disiplin yang saya lakukan. Tapiiii.. menjadi masalah
ketika saya akhirnya menyesuaikan diri, datang seselesainya pekerjaan di rumah
dan pulang ketika mayoritas ibu-ibu sudah pulang. Saya berani melakukan hal
tersebut, karena saya menyadari bahwa pekerjaan saya dalam satu hari tersebut
saya pastikan sudah terselesaikan ketika saya pulang. Jadi saya pulang juga
menggunakan perhitungan. Dan hampir setiap hari saya menargetkan pekerjaan apa
saja yang harus selesai setiap harinya. Sekarang, sejak tanggal 2 Januari 2013,
hal tersebut tidak bisa saya lakukan lagi. Tidak bisa datang jam 8 dan tidak
bisa pulang jam 3. Harus absen dan harus berebutan lift serta harus lari-larian
mengejar jemputan. Harus rela keluar rumah tanpa melihat Umar membuka mata.
Harus iklhas ketika Umar menuntut waktu lebih dengan tidur lebih malam daripada
sebelumnya. Disiplin yang mahal. Berbeda jauh dengan harapan ketika ingin
menjadi PNS. Wanita enaknya jadi PNS, waktunya fleksibel. Sekarang itu hanya
tagline belaka. Sedih.
Tapi
jangan melihat sesuatu hanya berdasarkan ketidaknyamanan yang kita rasakan,
atau yang kita persepsi sebagai derita kita. Sebenarnya saya masih lebih
beruntung dibandingkan yang lain. Karena rumah Mertua ada di pusat kota,
sehingga hanya butuh 20 menit saja naik ojeg pada pagi hari. Sementara
orang-orang harus berkejaran dengan waktu di pagi hari, berangkat subuh dan
pulang lepas magrib bagi yang bertempat tinggal di luar Jakarta. Pada point ini
seharusnya saya bersyukur. Bersyukur di tengah macetnya Jakarta, rumah saya
terbilang dekat dengan kantor.
Syukur
yang kedua, adalah ketika saya menyadari, ini adalah bentuk melatih disiplin
pegawai. Saya masuk sebagai PNS ingin mengabdi kepada Negara. Bullshit. Tp
sedikit banyak, saya mau jadi seseorang yang punya kontribusi untuk Negara,
meskipun tidak akan berpengaruh banyak. Saya miris ketika masuk ke dalam
instansi ini, tp dengan adanya remunerasi semoga aja budaya kerja instansi ini
dapat lebih tertata. Setidaknya sudah ada keadilan sekarang, meskipun sedikit.
Yang datang dan pulang sesuai jam yang berlaku pada aturan yang ada, maka akan
mendapatkan kompensasi yang sesuai, meskipun tidak jelas selama jam kerja itu
dia melakukan pekerjaan yang seharusnya atau tidak.
Syukur
ketiga adalah semakin banyak orang yang melaksanakan ibadah sunnah dan wajib
tepat pada waktunya. Sholat dhuha menjadi sering, karena menganggap daripada
waktu terbuang percuma tanpa melakukan apapun. Sholat Dzuhur jadi lebih ramai,
karena berjamaah dan ditambah dengan sholat rawatib yang mengiringinnya. Begitu
pula dengan sholat Ashar. Subhanallah. Jadi meskipun terasa berat, tapi saya
rasa memang inilah yang terbaik untuk dilakukan pada saat ini. PR yang
selanjutnya adalah bagaimana mensiasati macetnya jalan di Jakarta, agar waktu
bersama keluarga tidka semakin tersita hanya karena terlalu lama menghabiskan
waktu di jalan. Dan ini salah satu PR pula bagi insane perhubungan. Siapakah
yang bisa menjawab tantangan dan permasalahan ini? Kita lihat saja siap.
Wallahu alam.ggal di l
Sabtu, 05 Januari 2013
Anakku, Investasiku!
Saya
ingin beranjak. Lalu apa sebab saya ingin memiliki anak secepatnya, bahkan
ketika saya masih duduk di bangku SMP sudah menginginkan hal tersebut? Karena saya
tahu secara sadar, bahwa mendidik anak itu bukanlah hal yang mudah. Saya mendapatkan
insight tersebut berdasarkan pengalaman yang saya alami sendiri. Bagaimana interaksi
saya dengan orang tua saya, dan juga interaksi teman-teman sebaya saya dan
lingkungan sekitar saya dengan orang tua dan orang lain. Saya sadar, semakin
maju sebuah peradaban, tidak bisa dipungkiri maka semakin sulit pula dan
semakin banyak tantangan dalam mendidik anak.
Bukan
pesimis, tapi saya adalah orang yang realistis, jika saya memiliki anak pada
usia yang sudah cukup lanjut menurut persepsi saya sendiri pada saat itu, maka
akan dibutuhkan energy yang besar untuk mendidik anak saya kelak. Usia yang
beranjak senja secara otomatis tingkat kebugaran dan kekuatan fisik akan
menurun. Faktor kebugaran dan kekuatan fisik memang bukan penentu utama
keberhasilan dalam mendidik seorang anak. Tapi ketika seseorang sudah mengalami
kelelahan fisik yang diakibatkan oleh menuanya tubuh, maka akan mempengaruhi
bagaimana tingkat pengelolaan emosi dan permasalah psikologis lainnya. Itu yang
saya yakini. Jadi saya berkesimpulan bahwa semakin muda usia ketika memiliki
anak maka akan semakin baik.
Hal
ini semakin diperdalam oleh pemahaman agama yang saya peroleh secara tidak
sengaja. Saya bukanlah orang yang sholihah sebagaimana mungkin dipersepsikan
oleh sebagian orang yang tidak mengenal masa lalu saya. Tapi saya juga tidak
sebejat apa yang dipikirkan orang-orang ketika seandainya saya mengucapkan hal
tersebut kepada orang yang baru pertama kali mengenal saya. Saya akui,
pemahaman agama saya terhadap agama yang saya yakini terbilang cukup untuk anak
seumur saya pada masanya. Lebih mungkin. Meskipun saya tidak juga secara sadar
menunaikan kewajiban sholat lima waktu sampai dengan tahun 2008. Namun di luar
keengganan dan sifat buruk saya tersebut, saya berusaha untuk terus belajar,
setidaknya saya cukup rajin untuk membaca buku-buku agama, hal yang sudah saya
lakukan sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Saya tahu bahwa semakin menuju pada
akhir jaman, maka mendidik anak akan semakin sulit. Anak-anak akhir jaman,
memiliki ketertarikan yang lebih kuat pada dunia, dan tidak mementingkan
permasalahan akhirat. Mereka terancam lupa pada Tuhan dan RasulNya. Dan saya
tidak ingin anak dan cucu serta keturunan saya menjadi salah satu yang bernasip
demikian. Nauzubillah mindzalik.
Hal
tersebut yang mendasari keinginan saya untuk menikah cepat dan segera memiliki
momongan. Alhamdulillah, di tengah berbagai keterbatasan dan kelemahan yang
dimiliki orang tua saya, mereka memberikan izin, restu, doa, usaha dan
kepercayaan ketika saya menyatakan keinginan saya untuk menikah dengan suami
saya. Allah Swt Maha Mendengar dan Maha Tahu apa yang paling baik untuk
hambaNya. Termasuk pada diri saya. Tanpa terduga, Allah mendengar keinginan
masa kecil saya, dan mengabulkannya dengan cara yang sampai sekarang mungkin
selalu saya pikirkan dan saya syukuri. Apapun itu, Allah Yang Maha Baik
memberikan saya banyak rezeki meskipun masih kerap kali saya lalai kepadaNya. Tanpa
menunggu waktu yang lama, 9 bulan setelah saya menikah, saya telah memiliki
momongan. Anak yang insya Allah akan menjadi penyejuk mata dan menjadi orang
yang taat kepada Allah Swt dan Rasul Muhammad Saw. Dan saat ini di usia yang
kedua puluh lima tahun, Allah kembali mempercayakan mahluknya untuk berada
dalam rahim saya. Investasi saya. Ya anak-anakku adalah investasiku. Investasi dunia
akhirat. Sejauh mana saya bisa mendidiknya untuk menjadi seseorang yang
bermanfaat bagi ummat dan menjadi orang yang bertakwa itulah tantangan yang akan
dan harus saya hadapi. Semoga Allah Swt senantiasa memberikan kemudahan bagi
saya dan suami untuk membesarkan, mendidik dan merawat anak-anak kami dengan
penuh kesabaran dan rasa syukur. Amin ya rabbalalamin.
Jumat, 24 Februari 2012
Doa untuk Umar
Hari ini
sebetulnya mood buat nulis belum juga datang sampai
watu laptop menunjukkan pukul 19.19 WIB. Suami sedang getol sekali
memaksa saya
untuk menulis. Katanya biar Umar tertular untuk menulis. Tidak ada yang
salah
dari keinginan suami saya tersebut. Yang salah adalah rasa malas yang
dominan
melingkupi diri saya.
Tak usah berpanjang lebar,
sebenarnya banyak ide tentang
tulisan yang singgah di pikiran saya, tp mengingat tipikal acak abstrak
saya. Saya
memilih untuk fokus pada satu bahan tulisan. Tulisan ini didedikasikan
untuk
Umar, sang jagoan, investasi masa depan ummi yang ummi sayang dengan
seluruh
jiwa raga ummi. Ummi sayang Umar karena Allah, nak. Sungguh.
Umar
Ahmad Kautsar, jagoan saya dan suami yang lahir pada
hari Senin, 4 April 2011 melalui proses ceasar. Panjang ceritanya kalau
saya
harus menceritakan kembali dalam bentuk tulisan mengenai proses pra dan
selama
persalinan. Jadi saya memilih untuk tidak menguraikannya di sini. Saya
memilih
untuk menceritakan harapan saya kelak akan menjadi seperti apa Umar
ketika ia
dewasa.
Anak adalah eksperimen orang tua. Entah mengapa
saya
berpikir hal itu jauh sebelum Umar lahir. Saya dan suami bukanlah anak
yang
besar dalam keluarga yang tanpa konflik. konflik dalam rumah tangga
adalah
keniscayaan menurut pribadi saya. Entah itu konflik yang berdampak
positif
maupun yang berdampak negatif. Kami berdua, sebagai mahluk yang
berpikir, dapat
membedakan konflik mana saja yang berdampak positif dan negatif dalam
pola asuh
kedua orang tua kami. Kami tentu dengan senang hati mengadopsi
bentuk-bentuk
interaksi dan pola asuh yang sesuai dan benar di mata kami, dan tidak
memilih
yang tentu saja tidak sesuai dengan visi dan misi kami dalam berumah
tangga. Perpaduan
antara berbagai bentuk interaksi yang akan diterapkan kepada anak kami
inilah
yang saya sebut sebagai eksperimen. Jadilah Umar menjadi bahan
eksperimen saya
dan suami, dengan atau tanpa intensi sebelumnya.
Umar
sekarang sudah berusia 10 bulan 3 minggu. Sudah besar.
Wajahnya alhamdulillah rupawan. Tingkah
polahnya lucu dan menggemaskan. Doyan makan, meski sulit sekali
memasukkan
makanan ke dalam mulutnya yag menurut banyak orang indah. Umar dicintai
banyak
orang, karena ia adalah bayi yang sumeh kata orang Jawa, ramah
maksudnya. Kerap
dibilang mirip orang Arab, mancung, dengan warna kulit khas orang Timur
Tengah.
Apapun itu, Umar adalah anak yang ummi dan abi sayang.
Umar,
ketahuilah nak. Bahwa ummi dan abi ingin Umar menjadi
pribadi yang lebih segalanya dari ummi dan abi. Lebih sholeh, lebih
kuat, lebih
sehat, lebih pintar, lebih cerdas. Dan diatas semua itu, ummi sangat
berharap,
Umar bisa mencintai Allah dan Rasul Muhammad melebihi ummi dan abi.
Karena dengan
kecintaan kepada keduanya lah, Umar bisa hidup senang di dunia dan
akhirat, insya
Allah.
Ummi ingin, Umar bisa terus berpegang teguh pada
tali agama Allah, dalam
situasi dan kondisi apapun, karena ummi paham, semakin mendekati hari
kiamat,
akan makin banyak fitnah yang dapat menjerumuskan siapapun yang tidak
memiliki
aqidah yang kuat. Ummi tidak ingin Umar menjadi golongan yang demikian.
Ummi
ingin
Umar tumbuh menjadi orang yang bisa membedakan yang baik dan yang salah,
menjadi orang yang pandai bersabar dan bersyukur dalam setiap kondisi,
menjadi
orang yang istiqomah di jalan kebenaran, menjadi pemimpin yang amanah,
menjadi
suami yang setia, menjadi contoh yang baik bagi anak-anak Umar kelak.
Menjadi
orang
yang suka menolong orang lain. Tidak kikir dalam mengelola kekayaan
pribadi. Tidak
dibutakan oleh kekuasaan dan harta, apalagi wanita. Hormat kepada orang
tua,
dan selalu melakukan kebaikan dan ibadah dengan mengharapkan ridho Allah
Swt. Dan
jika keinginan ummi yang terakhir ini tidaklah terlalu muluk, ummi
ingin, ingin
sekali Umar bisa menjadi orang yang bisa menghafalkan dan mengamalkan
Al-Qur’an.
Ya menjadi seorang hafidz.
Umar, semoga Allah meridhoi
cita-cita ummi ini ya
nak. Ridho ummi selalu ada untuk Umar. Salam cinta dari ummi untuk Umar
dalam
untaian doa yang tidak pernah lepas dari kalam ummi untukmu nak.
Wallahualam
bishawab
Kamis, 23 Februari 2012
Pengalaman Tak Terduga
hari ini kamis tanggal 23 februari. hari yang penuh dengan perjuangan. perjuangan yang mungkin bagi sebagian orang konyol, tapi tidak bagi saya.
alkisah anak saya, umar, sedang sakit panas dari semenjak hari selasa. menurut dokter anak saya, sebaiknya saya bersabar dulu dan tak buru-buru membawanya ke rumah sakit. observasi dulu sang anak dalam 72 jam.
alkisah anak saya, umar, sedang sakit panas dari semenjak hari selasa. menurut dokter anak saya, sebaiknya saya bersabar dulu dan tak buru-buru membawanya ke rumah sakit. observasi dulu sang anak dalam 72 jam.
Langganan:
Postingan (Atom)